22.10.2015
FAQ Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan jelas berpotensi merugikan ekonomi, lingkungan hidup dan terutama berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup masyarakat. Kondisi seperti ini sungguh tidak bisa diterima.

Kami menerapkan kebijakan yang jelas dan tegas : Kami tidak membakar lahan kami. Kami akan memutuskan kerja sama dengan pemasok yang terlibat dalam tindakan pembakaran.

Kebakaran hutan secara langsung telah menimbulkan ancaman serius bagi APP, yang notabene merupakan perusahaan yang bergantung kepada pasokan kayu HTI (Hutan Tanam Industri). Secara komersial tidak masuk akal apabila para pemasok APP dengan sengaja melakukan pembakaran hutan untuk membersihkan lahan, sebab kebakaran hutan ini sendiri telah merusak HTI dan mengakibatkan kerugian besar.

APP bersama dengan para pemasok kayunya melakukan langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan di area konsesi sebelum musim kemarau tiba. Fenomena El-nino tahun ini pun dirasakan sebagai yang terburuk sejak 1996/1997 dan mengakibatkan meningkatnya kesulitan dalam menanggulangi kebakaran itu sendiri.

APP sendiri berkomitmen secara penuh untuk bersikap terbuka mengenai kebakaran hutan ini, kendati keterbukaan kami cenderung membuka peluang untuk investigasi yang lebih jauh. Kami percaya bahwa ini adalah langkah yang perlu diambil agar kebakaran hutan dan kabut asap bisa segera ditangani secara efektif. APP berkomitmen untuk ikut berperan dalam penanganan kabut asap dengan melakukan kerja sama dengan semua pihak terkait di Indonesia, Singapura dan cakupan wilayah lain yang lebih luas.

Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang kerap kami terima berkaitan dengan masalah kebakaran hutan dan kabut asap.

1. Apakah APP melakukan pembakaran untuk membersihkan lahan?

Tidak.

Semua pemasok APP tidak melakukan pembakaran untuk membersihkan lahan. Sejak tahun 1996 APP telah menerapkan Kebijakan Tanpa Bakar (Zero Burning Policy) yang diberlakukan juga ke seluruh rantai pemasok. Hal ini juga diperkuat oleh pelaksanaan Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP) sejak Februari 2013, yang mengatur bahwa pemasok kayu APP tidak lagi melakukan pembukaan hutan alam dan hanya memanen di HTI yang didirikan.

Adapun pelaksanaan FCP dipantau secara ketat oleh pihak ketiga seperti The Forest Trust, Program Pengamatan Independen (LSM lokal, akademisi, pemerintah), dan tentu saja Greenpeace. Kami juga memiliki bentuk Mekanisme Keluhan FCP dan tahap-tahap pelaksanaan FCP dievaluasi langsung oleh Rainforest Alliance. Laporan lengkap bisa dilihat pada situs implementasi FCP kami : www.fcpmonitoring.com.

Tidak masuk akal secara ekonomis bagi para pemasok kayu APP untuk melakukan pembakaran lahan dan membahayakan HTI yang sudah ada. Sebagai perusahaan bubur kayu dan kertas, APP sudah pasti membutuhkan kayu yang menjadi bahan baku utama produksi bubur kayu dan kertas. Pemasok kayu kami pun membutuhkan kayu untuk mendapat keuntungan.
Bahkan, musim rawan kebakaran kali ini telah menghasilkan kerugian besar secara finansial yang diakibatkan kerusakan tanaman karena kebakaran hutan.

APP berkomitmen untuk melindungi kawasan hutan alam. Kawasan konservasi yang rusak terbakar akan direstorasi lagi menjadi hutan alam.

2. Adakah kemungkinan bahwa pemasok Anda melakukan pembakaran di beberapa area yang belum berkembang untuk dijadikan perkebunan kayu?

Di bawah FCP, kami berkomitmen untuk merestorasi kawasan konservasi yang terbakar. Apabila kawasan konservasi di area konsesi pemasok kami terbakar, kami pasti mengembalikan area tersebut menjadi hutan alam lagi. Mengingat biaya restorasi yang sangat tinggi, tidak ada alasan mengapa kami melakukan pembakaran kawasan hutan hanya untuk kemudian dikembalikan lagi sebagaimana mestinya.

3. Tindakan apa saja yang telah diambil guna mencegah kebakaran terjadi di HTI Anda?

APP melakukan tindakan-tindakan signifikan dalam mencegah kebakaran hutan, antara lain:

  • Memberlakukan Kebijakan Tanpa Bakar bagi semua pemasok melalui Prosedur Standar Operasi dan pedoman pengelolaan kebakaran. Kegiatan pembukaan lahan dengan menggunakan api pun dilarang keras.
  • Para pemasok kayu APP melakukan pemantauan hotspot dan firespot sehari-hari melalui menara pengawas kebakaran (yang sebagian dilengkapi dengan CCTV), satelit NOAA dan MODIS TERRA/AQUA, patroli helikopter, drone pemantau, dan peringatan melalui SMS dari Global Forest Watch (WRI).
  • Sosialisasi dan program pelatihan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan konsesi mengenai pentingnya perlindungan hutan, bahaya kebakaran, dan pelarangan aktivitas membakar hutan. Sosialisasi dan program pelatihan ini sendiri berlangsung sepanjang tahun, terutama di daerah yang dianggap rawan kebakaran hutan.
  • Kerja sama dengan masyarakat untuk membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan memberi pelatihan kepada anggota seputar pemantauan kebakaran, patroli kebakaran dan pencegahan kebakaran awal. Saat ini pemasok kayu APP telah melibatkan sekitar 2600 anggota MPA yang tersebar di 220 desa.
  • Para pemasok kayu APP mengembangkan Forest Threat Mapping (Pemetaan Kerawanan Hutan) untuk mengutamakan daerah yang perlu dipantau lebih insentif. Peta ini meliputi pemetaan masyarakat dan pemetaan area konflik, dimana kebakaran umumnya bermula di area konflik tersebut. Selain itu dilakukan juga pengembangan rencana kerja yang berupaya mengatasi tantangan yang teridentifikasi melalui Pemetaan Kerawanan Hutan.
  • Jika terjadi kegiatan ilegal seperti pembalakan liar, perambahan/pelanggaran batas ilegal, dan pembukaan lahan dengan dibakar, maka pemasok kayu APP akan segera melaporkannya kepada pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti. (Lihat di  http://jambi.tribunnews.com/2015/09/01/9-orang-ditangkap-bakar-lahan-konservasi-pt-wks).
  • Untuk mengurangi risiko kebakaran di lahan gambut, kami telah memblokir kanal untuk mempertahankan ketinggian air serta penerapan praktik terbaik lahan gambut (http://news.mongabay.com/2015/08/app-to-clear-plantations-to-restore-peatlands/).
  • APP berkomitmen untuk merehabillitasi sekitar 7.000 hektar HTI di lahan gambut kembali menjadi hutan alam.

 

4. Jika begitu,bagaimana bisa terjadi kebakaran di area konsesi Anda?

Tak satupun perusahaan yang bergerak dalam industri kehutanan yang benar-benar terisolasi dalam lanskap, dalam hal ini hutan. Api dapat dengan mudah menyebar dari satu area ke area lainnya.

Selebihnya, masalah kebakaran menjadi sangat kompleks karena melibatkan hak-hak masyarakat sekitar, kegiatan ilegal yang dilakukan oleh perusahaan kecil serta permasalahan mendasar yang kompleks seperti hak penggunaan lahan, peta, kepemilikan dan perlindungan. Oleh karena itu masalah rumit seperti ini perlu ditelusuri bersama-sama oleh semua pihak terkait yang bergerak dalam industri perhutanan, serta berkonsentrasi untuk mencari solusi atas penyebab kebakaran agar masalah kebakaran hutan ini dapat teratasi secara efektif.

Global Forest Watch Fire Analysis, 1 Juli sampai dengan  8 Oktober 2015.
Pemasok kayu APP yang juga menjadi bagian dari HTI, mewakili 16% dari Fire Alerts di Sumatera dan Kalimantan. Informasi lebih lanjut di http://fires.globalforestwatch.org

5. Tindakan apa yang Anda lakukan untuk menekan kebakaran di area konsesi APP tersebut?
 
APP dan para pemasok kayunya telah menerjunkan ribuan petugas pemadam kebakaran di lapangan, yang bekerja sama dengan masyarakat, tentara dan badan pemerintah untuk sesegera mungkin mengendalikan api. Para petugas pemadam kebakaran juga membangun sekat bakar di tanah untuk menghambat penyebaran api.

Adapun sumber daya yang mendukung upaya mengatasi kebakaran hutan ini meliputi lebih dari 2.900 personel pemadam kebakaran terlatih, helikopter pencegah kebakaran, pemantauan satelit oleh Global Forest Watch, dan drone pemantau. Selain itu, program masyarakat APP telah melibatkan lebih dari 2.600 orang di 220 desa setempat, memberikan pelatihan dan peralatan untuk seluruh personel penanganan kebakaran hutan serta masyarakat setempat.

6. Berapa banyak biaya yang telah disiapkan untuk mengatasi kebakaran hutan yang terjadi di musim ini?

Fokus kami adalah pada upaya pencegahan kebakaran, yang terutama dilakukan melalui penerapan Kebijakan Tanpa Bakar dan diperkuat lagi oleh Kebijakan Tanpa Deforestasi, sebagai pendekatan lanskap dalam pengelolaan hutan dan praktik terbaik dalam pengelolaan gambut. Dalam 3 tahun terakhir sejak pelaksanaan Kebijakan Tanpa Deforestasi, APP telah menginvestasikan sedikitnya 200 juta dolar AS.

Investasi ini melengkapi investasi kebakaran spesifik pada deteksi dan respon atas kebakaran dibawah payung strategi APP dalam mencegah kebakaran, termasuk diantaranya penyediaan helikopter pemadam kebakaran, pemantauan satelit termasuk sistem SMS langsung kepada tim operasional melalui Global Forest Watch, drone pemantau, serta tim tanggap kebakaran yang terdiri dari 2.900 petugas pemadam kebakaran terlatih. Selain itu, program komunitas APP telah melibatkan lebih dari 2.600 orang di 220 desa setempat, memberikan pelatihan dan peralatan untuk pengelolaan kebakaran hutan.

7. Siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan saat ini?

Analisa WRI dan khususnya CIFOR sebagai bagian dari penelitian “Political Economy of Fire” yang masih berlanjut, menunjukkan bahwa kebakaran hutan adalah masalah yang sangat kompleks. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa mayoritas terjadinya kebakaran dimulai dari praktek “tebang bakar “ atau kegiatan ilegal untuk membuka daerah pertanian baru. Hal ini sejalan  dengan pengalaman kami sendiri dalam menanggulangi kebakaran yang ada di dan dekat area konsesi kami.

8. Langkah apa yang akan dilakukan jika pemasok Anda terbukti bersalah sengaja membakar lahan ?

Jika pemasok terbukti terlibat dengan sengaja dalam upaya pembakaran hutan, maka kebijakan kami secara tegas menyatakan untuk segera memutuskan kerja sama dengan pemasok tersebut. Sejauh ini tidak ada pemasok yang terbukti telah terlibat. Terlalu dini untuk membuat penilaian, karena itu alangkah baiknya menunggu penyelidikan oleh otoritas yang bersangkutan selesai.

9. Apa tanggapan Anda terhadap berita-berita seputar kebakaran hutan dan kabut asap yang secara tak langsung tertuju kepada APP?

Masalah kebakaran hutan ini sangat rumit dan baik pemerintah Indonesia maupun Singapura masih melakukan penyelidikan atas situasi ini. Kami sangat memahami bahwa para pihak terkait ingin sesegera mungkin melihat adanya tindak lanjut, begitu juga dengan kami. Namun kami beranggapan bahwa hasil penyelidikan yang akurat sama pentingnya dalam mengatasi masalah ini.

Kamipun berharap agar pemerintah dan para pihak seperti LSM, kelompok konsumen dan media menyadari hal ini dan bekerja bersama kami untuk menemukan solusi atas masalah yang sedang terjadi.

10. Badan Lingkungan Nasional (National Environment Agency) telah mengirimkan surat kepada APP dan meminta informasi lebih lanjut sesuai dengan Undang Undang Kabut Asap Lintas Negara. Bagaimana situasi saat ini?

Lebih jelasnya, APP telah menerima pemberitahuan dari Badan Lingkungan Nasional Singapura dan telah merespon dengan segera dan sesuai dengan batas waktu yang diberikan oleh mereka, yaitu tanggal 2 Oktober 2015.

Lebih dari itu, APP telah mengundang sejumlah pejabat NEA untuk mengunjungi wilayah kerjanya di Indonesia untuk menunjukkan bahwa perusahaan terus menerapkan Kebijakan Tanpa Bakar (sejak tahun 1996) dan juga menunjukkan berbagai upaya pemadaman kebakaran.

11. Apa langkah-langkah APP selanjutnya untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan kabut asap?

APP berkomitmen untuk bekerja sama dengan semua pihak berwenang yang terkait, agar situasi yang telah membawa dampak terhadap Indonesia, Singapura dan wilayah lainnya ini bisa dikendalikan.

Follow @AsiaPulpPaper